Rutin Minum Teh Tawar Dikaitkan dengan Penurunan Risiko Stroke hingga 13 Persen
Rutin mengonsumsi sekitar tiga cangkir teh tawar setiap hari dikaitkan dengan penurunan risiko stroke hingga 13 persen berdasarkan hasil analisis terhadap lebih dari 510 ribu orang.
Manfaat teh bagi kesehatan ternyata tidak hanya memberikan efek relaksasi, tetapi juga berpotensi menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan sederhana mengonsumsi teh secara rutin dapat dikaitkan dengan penurunan risiko berbagai penyakit kardiovaskular, termasuk stroke.
Para ahli menyebutkan konsumsi sekitar 500 hingga 1.000 mililiter teh per hari atau setara dua hingga empat cangkir dapat membantu menjaga kesehatan sistem kardiovaskular. Manfaat tersebut berasal dari berbagai senyawa alami yang terkandung dalam teh, seperti katekin, theaflavin, flavonoid, dan polifenol yang memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi.
Senyawa-senyawa tersebut berperan melindungi pembuluh darah dari kerusakan akibat radikal bebas dan membantu mengurangi peradangan kronis yang menjadi salah satu faktor risiko gangguan jantung dan pembuluh darah. Polifenol dalam teh juga diketahui membantu menjaga elastisitas pembuluh darah sehingga sirkulasi darah dapat berlangsung lebih baik.
Manfaat tersebut didukung oleh hasil meta-analisis terhadap 14 penelitian yang melibatkan lebih dari 510.000 peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi sekitar tiga cangkir teh setiap hari memiliki risiko stroke yang lebih rendah hingga 13 persen dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsi teh. Penurunan risiko tersebut terutama terlihat pada stroke iskemik yang terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah di otak.
Temuan serupa juga diperlihatkan oleh penelitian yang dipublikasikan dalam European Journal of Preventive Cardiology pada tahun 2020. Studi yang melibatkan sekitar 100.000 orang dewasa tersebut menemukan bahwa individu yang minum teh sedikitnya tiga kali dalam seminggu memiliki risiko lebih rendah mengalami penyakit jantung dan kematian dini akibat gangguan kardiovaskular. Bahkan, mereka tercatat mengalami gangguan kardiovaskular sekitar 1,4 tahun lebih lambat dibandingkan kelompok yang jarang mengonsumsi teh.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa manfaat tersebut tidak berarti teh dapat digunakan sebagai obat untuk mencegah stroke maupun penyakit jantung. Penelitian yang ada masih menunjukkan hubungan antara kebiasaan minum teh dan penurunan risiko penyakit, bukan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Agar manfaatnya lebih optimal, para ahli menyarankan untuk mengonsumsi teh tanpa tambahan gula atau pemanis lainnya. Hal ini menjadi catatan penting bagi masyarakat Indonesia yang memiliki kebiasaan mengonsumsi teh manis setiap hari. Kandungan gula yang berlebihan justru dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan berbagai penyakit metabolik yang berkaitan dengan gangguan pembuluh darah.
Jenis teh yang dikonsumsi pun tidak harus selalu teh hijau. Para peneliti menyebutkan belum terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa teh hijau lebih unggul dibandingkan teh hitam maupun teh oolong dalam memberikan manfaat bagi kesehatan jantung. Ketiga jenis teh tersebut berasal dari tanaman yang sama, yakni Camellia sinensis, dengan perbedaan utama terletak pada proses pengolahannya.
Meski kaya manfaat, konsumsi teh tetap perlu dilakukan secara bijak dan tidak berlebihan. Sebab, teh juga mengandung kafein yang pada sebagian orang dapat memicu gangguan tidur, jantung berdebar, maupun gangguan lambung apabila dikonsumsi dalam jumlah yang terlalu banyak.
Pada akhirnya, secangkir teh tawar setiap hari mungkin terdengar sebagai kebiasaan yang sederhana. Namun, jika diiringi dengan pola makan sehat, olahraga teratur, tidak merokok, dan menjaga tekanan darah tetap normal, kebiasaan tersebut berpotensi menjadi salah satu investasi kecil bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah dalam jangka panjang.





